Daftar Isi

Friday, February 22, 2013

Power Supply

 CATU DAYA

 Saya menemukan artikel ini di kumpulan arsip-arsip tulisan saya,entah tahun berapa saya menyusunnya.Sepertinya artikel ini sangat berguna,jadi saya muat di blog ini.
Segala instrumen elektronik memerlukan sumber daya DC untuk beroperasi.Ada beberapa yang menggunakan sumber daya dari baterai, namun pada umumnya sumber daya diperoleh dari suatu rangkaian yang mengubah tegangan dari jaringan listrik (220 V, 50 Hz) menjadi suatu nilai tegangan DC.
Pencatu daya dituntut memberikan arus dan tegangan DC dengan toleransi tegangan kecil, tegangan catu yang tidak dipengaruhi oleh tegangan masukan dan beban, dan tegangan kerut (ripple) yang rendah.Ini berarti pencatu daya harus melakukan stabilisasi dan regulasi yang baik.
Rangkaian dasar catu daya setengah gelombang atau gelombang penuh memiliki tegangan keluaran yang bukanlah suatu nilai DC yang konstan.Walaupun setelah melewati filter yang berupa kondensator, namun diatas keluaran DC tersebut menumpuk suatu gelombang bolak – balik yang disebut ripple atau kerut.Gambar 1a. adalah rangkaian dasar catu daya dengan penyearah gelombang penuh yang menggunakan dua buah dioda dan trafo bertap tengah (CT), sedangkan gambar 1.b. menggunakan penyearah jembatan dan trafo tanpa bertap tengah.


(a)



(b)

Gambar 1. Rangkaian dasar catu daya dengan
(a)    penyearah gelombang penuh menggunakan dua buah dioda dan (b) menggunakan penyearah jembatan.


          Setelah rangkaian penyearah dan filter, suatu catu daya membutuhkan rangkaian pengatur tegangan.Salah satu jenis rangkaian pengatur tegangan yang menggunakan transistor adalah pengatur seri.Rangkaian pengatur seri sederhana diperlihatkan dalam gambar 2.R1 membatasi arus yang melalui dioda zener ke suatu taraf yang aman.Suatu tegangan yang pasti timbul pada dioda zener.Tegangan di emitor adalah tegangan pada dioda zener dikurangi tegangan sambungan basis-emitor yang besarnya kira - kira 0,7 Volt.Karena arus yang diberikan ke beban mengalir melalui transistor, dioda zener daya rendah dapat digunakan tanpa memperhatikan kebutuhan arus dari beban.Kondensator C1 digunakanuntuk menolak setiap desis biasa atau desis dari jaringan yang muncul pada dioda zener.



Gambar 2.Rangkaian Pengatur Tegangan.

          Agar dapat memberikan arus yang lebih tinggi kepada beban maka digunakan sepasang darlington sebagai ganti dari transistor tunggal.Dalam gambar 3., digunakan transistor yang kuat dan berdaya tinggi sebagai Tr2.Diantara basis Tr1 dan emitor Tr2 terdapat tegangan jatuh yang berkisar 1 Volt.Bila digunakan dioda zener 15 Volt, maka di emitor Tr2 terdapat tegangan kira - kira 14 Volt.Untuk meminimalkan tegangan jatuh tersebut dapat digunakan transistor germanium untuk Tr1



Gambar 3. Menggunakan pasangan darlington sebagai ganti transistor tunggal.


  Untuk rangkaian digital yang melibatkan banyak IC TTL dan LED 7 segment, diperlukan rangkaian catu daya 5 Volt yang dapat memberikan arus yang cukup besar.Rangkaian lengkap catu daya tersebut diperlihatkan pada gambar 4.Rangkaian tersebut menggunakan rangkaian pengatur tegangan umpan balik.Sejumlah tegangan keluaran diumpan balikkan kepada basis Tr2.Rangkaian catu daya pada gambar 4 merupakan variasi dari pengatur seri yang telah diberikan sebelumnya.Tegangan di C1 dapat dihitung dengan cara dibawah ini :

                                   U C1   =  9 Volt x √2  – 1,4
                                    = 11,3 volt
1,4 merupakan penurunan tegangan oleh dioda penyearah.Tegangan kerja kondensator harus selalu lebih tinggi dari tegangan yang melintasinya.Trafo harus mampu mengeluarkan arus 1,5 kali lebih besar dari arus yang dibutuhkan rangkaian.
Walaupun cukup sederhana tetapi rangkaian catu daya tersebut mempunyai stabilitas yang baik terhadap tegangan masukan dan beban.Untuk keperluan tegangan keluaran yang lain, maka perlu dilakukan penyesuaian terhadap tegangan sekunder Trafo, D5, R2, dan VR.



           Gambar 4. Rangkaian catu daya 5 Volt menggunakan pengatur tegangan umpan 
                           balik.  

Untuk keperluan laboratorium atau eksperimen kita memerlukan catu daya variabel.Dengan catu daya tersebut kita dapat memenuhi kebutuhan berbagai macam rangkaian yang sedang dirancang atau diuji.Rangkaian catu daya variabel dapat dilihat pada gambar 5. Dalam rangkaian tersebut, Tr1 dan Tr2 bertugas sebagai penguat kesalahan yang dirangkai sebagai penguat differensial.Rangkaian tersebut meningkatkan stabilitas tegangan keluaran terhadap perubahan temperatur sekitar.Tegangan acuan yang diperoleh melalui dioda zener 3,9 Volt diberikan ke penguat differensial lewat basis Tr1 dan disitu diperbandingkan dengan tegangan keluaran yang diperoleh dari potensiometer.Bila tegangan keluaran turun yang disebabkan bertambahnya beban, maka arus basis Tr2 mengecil, maka lewat Tr2 pun berkurang arusnya sehingga menaikkan tegangan kolektor.Hal ini menyebabkan Tr3 lebih menghantar dan memaksa keluaran kembali pada tegangan yang sangat mendekati nilai semula.Kebalikannya terjadi bila tegangan keluaran naik oleh suatu sebab.
Untuk menaikkan tegangan keluaran maksimalnya maka tegangan sekunder trafo dapat diganti dengan yang lebih tinggi sedangkan tegangan minimalnya sesuai dengan tegangan dari dioda zener yang dipakai, yaitu 3,9 Volt.Rangkaian catu daya tersebut paling tidak dapat memberikan arus sebesar 2 A.


Gambar 5.Catu daya dengan tegangan keluaran yang dapat diatur.

Selain menggunakan transistor, catu daya variabel juga dapat dibuat menggunakan op-amp (Gambar 6).Tegangan acuan diberikan kepada penguat tak membalik (+) sedangkan masukan membalik ( - ) mendapatkan tegangan keluaran lewat potensiometer.Karena op-amp berpenguatan tinggi, maka hanya sedikit selisih di antara kedua masukan akan menyebabkan keluaran op-amp berayun dalam saturasi positif atau negatif.Dalam rangkaian tersebut digunakan IC 741 yang merupakan penguat differensial dengan penguatan yang sangat tinggi, sehingga dapat dibuat catu daya yang relatif sederhana dengan kehandalan tinggi.


Gambar 6.Rangkaian catu daya variabel menggunakan op amp.

          Dengan adanya IC pengatur tegangan tipe 78xx dan 79xx, dapat dibuat pencatu daya dengan sedikit komponen eksternal yang distabilkan dengan prima.IC dengan tiga kaki ini yaitu masukan, ground, dan keluaran, mudah didapatkan  dan tersedia untuk tegangan keluaran dari 5 Volt sampai dengan 24 Volt.Semua tipe dilengkapi pembatas arus keluaran dan pelindung pembebanlebihan termik intern.Gambar 7 adalah rangkaian catu daya 5 Volt menggunakan IC 7805.IC 7805 memberikan tegangan keluaran 5 Volt dengan arus sampai 1A.Untuk arus keluaran yang lain juga tersedia misalnya 78L05 yang dapat memberikan arus sampai dngan 100 mA.Agar IC pengatur tegangan dapat bekerja dengan baik, tegangan masukan harus lebih tinggi dari tegangan keluaran yang diperlukan.Karena adanya variasi tegangan jaringan, maka langkah yang baik bila ada tegangan lebih 5 Volt sampai 10 Volt di kondensator C1.Untuk catu daya 5 Volt, dapat dipakai trafo dengan tegangan sekunder 9 Volt sehingga tegangan di C1 menurut perhitungan adalah 11,3 Volt.Kondensator C2 dipasang secara fisik sedekat mungkin dengan kaki IC pengatur tegangan.Kondensator ini terutama diperlukan bila IC pengatur tegangan berada jauh dari kondensator C1.Rangkaian tersebut juga dapat digunakan untuk pencatu daya dengan tegangan keluaran yang lain.Untuk IC 7812 dapat menggunkan trafo dengan tegangan sekunder 15 Volt. 



Gambar 7.Rangkaian catu daya 5 V menggunakan IC pengatur tegangan.

Beberapa rangkaian misalnya yang menggunakan op-amp membutuhkan catu daya negatif, selain catu daya positif.Rangkaian catu daya ganda atau simetris ±12 Volt diperlihatkan pada gambar 8. Rangkaian tersebut menggunakan trafo bertap tengah.Untuk mendapatkan tegangan negatif digunakan IC pengatur tegangan 7912.Sama seperti rangkaian sebelumnya, catu daya tersebut juga dapat digunakan untuk IC pengatur tegangan dengan tegangan keluaran yang lain.



Gambar 8.Rangkaian catu daya simetris +/- 12 V.

Agar dapat memberikan arus keluaran yang lebih tinggi, maka dapat ditambahkan transistor daya pada rangkaian catu daya, seperti diperlihatkan pada gambar 9. Terdapat sedikit tegangan jatuh yang diakibatkan tegangan sambungan basis-emitor transistor.Untuk catu daya positif menggunakan transistor NPN sedangkan catu daya negatif menggunakan transistor PNP.



Gambar 9. Menggunakan transistor agar IC pengatur tegangan dapat memberikan arus yang lebih tinggi, (a) Catu daya positif menggunakan transistor NPN dan (b) catu daya negatif menggunakan transistor PNP.

Walaupun IC pengatur tegangan tipe 78xx dan 79xx dirancang untuk tegangan keluaran yang tertentu, tetapi dengan tambahan komponen eksternal kita dapat mengubah besarnya tegangan keluaran tersebut.Salah satunya adalah mengunakan dioda yang dihubungkan ke terminal ground dari IC (Gambar 10).Dalam gambar tersebut menggunakan contoh pengatur tegangan 7805 dan di keluarannya terdapat tegangan sebesar 5,6 Volt.   



Gambar 10. Menambahkan sebuah dioda pada pengatur tegangan positif dan negatif untuk mengubah besarnya tegangan keluaran.

Bila menggunakan dua buah dioda, maka tegangan keluarannya sebesar 6,2 Volt (Gambar 11).Rangkaian tersebut juga dapat diterapkan pada pengatur tegangan seri 79xx.



          Gambar 11. Menggunakan dua buah dioda untuk mengubah tegangan keluaran.

Dioda zener juga dapat digunakan untuk keperluan  tersebut (Gambar 12).Tegangan keluaran adalah penjumlahan besarnya tegangan keluaran IC dengan tegangan dioda zener, tentu saja tegangan masukan harus melebihi hasil penjumlahan tersebut.



  Gambar 12. Bila menggunakan dioda zener, maka tegangan keluaran adalah penjumlahan tegangan dioda zener dengan tegangan keluaran IC pengatur tegangan.



Selain IC pengatur tegangan dengan tegangan keluaran yang tetap, juga tersedia IC untuk tegangan keluaran yang dapat diatur.Salah satunya adalah LM 317, yang merupakan IC pengatur tegangan positif 3 terminal yang dapat distel.LM 317 mempunyai jangkah tegangan keluaran antara 1,2 Volt sampai dengan 37 Volt.dengan arus 1,5 A, dan juga memiliki pembatas arus keluaran dan pelindung pembebanlebihan termik intern.Tegangan keluaran dapat dihitung dengan rumus :

          Vo  =  1,25 V ( 1 + R2/R1)

IC ini memerlukan dua resistor ekstern untuk menyetel tegangan keluaran yang salah satunya dapat memakai potensiometer, untuk tegangan keluaran variabel.Untuk pengatur tegangan negatifnya adalah LM 337.



 Gambar 13. Catu daya menggunakan IC pengatur tegangan dengan tegangan keluaran yang dapat diatur.


Rangkaian catu daya dengan tegangan keluaran yang variabel seperti pada gambar 6,dan13.membutuhkan meter tegangan pada panel depannya untuk menunjukkan tegangan keluarannya.Lebih baik bila terdapat juga meter arus.Gambar 14 menjelaskan pemasangan meter tegangan dan arus pada rangkaian catu daya.


                         Gambar 14. Penambahan meter tegangan dan arus pada catu daya.

Sebagai alternatif meter - meter tersebut, maka dapat digunakan meter untuk arus kecil misalnya 100 uA sebagai meter tegangan dan arus.Selanjutnya meter - meter tersebut dapat dikalibrasi dengan membandingkan dengan alat ukur yang presisi lalu memberi tulisan dan angka - angka yang sesuai pada meter - meter tersebut.Nilai resistor - resistor tersebut dapat disesuaikan menurut kebutuhan.



  Gambar 15. Menggunakan mikro ampere meter sebagai meter tegangan dan arus.

Biasakan Menyebut Sumbenya Bila Mengutip

Sunday, January 6, 2013

Night Lamp

                                                                           Lampu Malam

       Seperti sudah disebutkan dalam pos saya sebelumnya bahwa LED sudah memasuki rumah tangga,kali ini saya akan membagikan rangkaian lampu malam.Lampu malam yang umumnya digunakan di ruang tamu atau kamar tidur biasanya adalah lampu pijar 5 sampai 15 Watt.Dengan menggunakan lampu malam dari LED selain terjadi penghematan daya juga sinar yang dihasilkan lebih nyaman untuk dipandang.



Rangkaian Lampu malam

       Rangkaian lampu malam dibuat tanpa menggunakan transformator daya sehingga rangkaian dapat dibuat ringan dan mungil.LED yang digunakan adalah LED putih 5 mm pendek atau LED straw hat.Dibanding jenis lain,LED tersebut memiliki pancaran cahaya yang lebih menyebar tidak hanya terfokus ke depan,tentu saja anda bisa menggunakan LED jenis lain sesuai kebutuhan.Kekuatan cahaya dan jumlah LED dapat diubah dengan menyesuaikan kapasitor 0,33 uF dan penambahan dioda zener bila diperlukan yang diparalelkan dengan kapasitor 220 uF,tapi anda harus berhati-hati karena rangkaian ini langsung menggunakan jaringan listrik 220V.Walaupun rangkaian sudah dicabut dari steker,selama beberapa saat kapasitor masih ada kemungkinan menyimpan muatan yang dapat mengakibatkan sengatan listrik.
       Foto-foto dibawah ini adalah contoh bentuk jadi dari rangkaian lampu malam. Rangkaian harus dirakit dengan benar dan rapi dengan kotak yang terbuat dari nonlogam atau plastik untuk menghindari hubung singkat dan sengatan listrik.Bila semua itu sudah dilakukan anda tidak perlu khawatir karena rangkaian tersebut adalah rangkaian yang aman dan kuat.



Friday, November 30, 2012

Compact Fluorescent Lamp

                                   Jangan Buang Lampu CFL Bekas Anda! 




       Saat ini penggunaan lampu neon CFL (Compact Fluorescent Lamp) sudah bisa dikatakan menggeser pemakaian lampu pijar.Ini sangat wajar karena sinar yang dihasilkan CFL lebih bagus dan terang,selain itu lebih handal,awet,dan hemat energi.Jadi investasi yang lebih tinggi pada pembelian CFL sebanding dengan keuntungannya.
       Lampu CFL suatu saat tentu akan rusak juga.CFL rusak yang dikarenakan filamen lampunya yang putus masih bisa dimanfaaatkan sirkuitnya,tentu saja bila sirkuitnya masih baik.Sirkuit tersebut dapat digunakan untuk menyalakan tabung neon panjang.Dibandingkan sirkuit konvensional dengan menggunakan ballast,neon yang memakai sirkuit CFL lebih cepat menyala bila dihidupkan.Batas daya/Watt dari sirkuit CFL harus lebih tinggi dari neon yang digunakan.Dibawah ini contoh sirkuit CFL dan skema pemasangannya.



       Pemasangan neon tabung konvensional kepada sirkuit CFL sebenarnya sama seperti pemasangan dengan neon bawaan dari CFL,seperti diperlihatkan pada skema.Tentunya sirkuit CFL yang mungil bisa masuk dengan mudah pada kotak neon,tapi harus dijaga jangan sampai terjadi hubung singkat bila kotak terbuat dari logam.Foto-foto dibawah ini memperlihatkan penggunaan sirkuit CFL pada lampu neon.



Biasakan menyebut sumbernya bila mengutip

Saturday, November 24, 2012

Lampu Plafon Mobil

                                   Lampu Plafon Mobil Dari  LED



    





       Belakangan ini aplikasi LED sudah memasuki rumah tangga dan otomotif.Ini disebabkan kelebihan LED yang memiliki masa hidup lebih lama,lebih hemat energi,dan memancarkan sinar yang enak dipandang dibandingkan lampu pijar.
        Di pasaran otomotif banyak kita temui lampu plafon mobil dari LED.Sinar dari lampu plafon jenis ini lebih nyaman untuk membaca atau mencari barang yang jatuh di dalam mobil.Kita pun bisa membuatnya sendiri asal mau sedikit bersusah payah merakitnya,tentu saja biayanya jauh lebih murah.
       Rangkaiannya diperlihatkan di bawah ini.Yang kita butuhkan adalah LED putih ukuran 3mm.Led jenis ini sangat cocok dipakai karena dapat menyala dengan baik pada 3 volt,sehingga dengan asumsi bahwa tegangan baterai adalah 12 volt maka kita dapat menggunakan 4 LED dalam hubungan seri.Tidak dibutuhkan resistor di sini sehingga meyederhanakan rangkaian.


                                                          Rangkaian lampu plafon mobil LED

       Kita dapat menggunakan terminal lampu pijar tabung yang biasa dipakai di plafon mobil dengan memecahkan bodinya yang dari kaca.Masukkan dulu lampu dalam kantong plastik agar pecahan tidak beterbangan kemana-mana.Tempelkan terminal ke PCB dengan menyoldernya ke jalur tembaga yang harus dibuat di pinggir PCB.Sebelumnya terminal dapat dilem dulu agar mudah menyoldernya,setelah itu
bisa ditambahkan lem lagi untuk memperkuat.LED dipasang dan disolder setelah terminal menempel ke PCB.Untuk mendapatkan sinar yang lebih terang kita bisa menggunakan beberapa LED selanjutnya rangkai setiap 3 LED dalam  hubungan seri dan menambahkan resistor sebagai pembatas arus.Gambar-gambar berikutnya memperlihatkan lampu plafon LED setelah dipasang di plafon mobil.






Lampu Plafon Mobil 2

       Untuk lebih mengoptimalkan cahaya,kita bisa melakukan modifikasi terhadap rangkaian sebelumnya.Rangkaiannya tidak berubah tapi kita hanya menggunakan 3 buah LED dan dari jenis lain misalnya LED putih 5mm pendek seperti yang biasa digunakan pada lampu emergency dan senter.Lepas salah satu LED dan gantikan posisinya dengan sebuah resistor 47 Ohm/1 Watt,atau 56 Ohm/1 Watt bila anda tetap menggunakan LED 3mm.Untuk lebih jelasnya silahkan lihat foto-foto berikut ini.Cahaya yang dihasilkan rangkaian kita ini lebih dari cukup untuk digunakan sebagai lampu plafon mobil.Kalau bisa membuat sendiri kenapa harus beli ???!





Thursday, November 22, 2012

TCI

  
Biasakan menyebut sumbernya bila mengutip.Menyalin tanpa mencantumkan link sumber termasuk pelanggaran hak cipta.





                                                        TCI

 Electronic Ignition  - Transistor Controlled Ignition
         Banyak pemilik mobil  yang ingin mengganti sistem pengapian lama yang masih menggunakan contact breaker/platina ke pengapian elektronik.Mereka mencari-cari model apa yang sekiranya cocok dan handal untuk mobilnya,sekaligus terjangkau harganya.Di pasaran otomotif beredar beberapa macam pengapian elektronik dengan berbagai merk.
         Sebenarnya ada 2 jenis pengapian elektronik,yaitu CDI dan TCI.CDI mengubah tegangan dc 12 V menjadi tegangan tinggi misalnya 350 V untuk diberikan kepada koil.Sedangkan pada TCI,pensakelaran koil yang semula dilakukan oleh contact breaker diambil alih oleh transistor.Dengan digunakannya transistor maka kita tidak direpotkan oleh kotornya kontak dari contact breaker setelah mobil dipakai beberapa waktu yang dapat menyebabkan mesin dalam kondisi tidak prima : boros bahan bakar,sulit distart,bahkan mogok.
          Pemberi pulsa untuk pengapian elektronik yang beredar di pasaran ada yang menggunakan sistem magnetik dan cahaya yang sebenarnya fungsi utamanya sama dengan contact breaker yaitu mengontrol rangkaian pengapian.Ada juga yang masih tetap menggunakan contact breaker sebagai pulsernya,seperti rangkaian yang akan kita bahas ini.Keuntungannya adalah bila sewaktu-waktu kita akan mengubah sistem pengapian elektronik menjadi contact breaker kembali dapat dilakukan dengan cepat dan mudah,misalnya(amit-amit)terjadi kerusakan pada rangkaian pengapian elektronik.Setelah menggunakan pengapian elektronik ini contact breaker akan awet karena hanya dilalui arus dalam orde miliamper dan tidak induktif sehingga menghemat biaya,selain itu mobil dapat dipertahankan pada kondisi yang prima dalam jangka waktu yang lama.Pengendalian koil selanjutnya diambil alih oleh transistor.
           Rangkaian TCI saya rancang dengan basis TIP162,yaitu transistor daya darlington.Transistor tersebut mempunyai karakteristik arus kolektor 10A, tegangan kolektor emitor 380V dan dapat mendisipasikan daya sebesar 125W.Sehingga dengan spesifikasi tersebut cocok untuk mengendalikan koil mobil.Gambar 1 adalah rangkaian lengkap TCI.Contact breaker/platina memberi pulsa kepada basis T1,selanjutnya T1 yang meng-on/offkan T2.Dioda zener melindungi T2 dari sengatan tegangan tinggi karena transistor tersebut mengendalikan beban induktif koil mobil.Dioda zener yang dipakai di sini adalah 2 buah dioda zener 150V/1W atau 4 buah dioda zener 75V/1W yang dirangkai seri seperti diperlihatkan pada gambar 2.Anda dapat memilih sesuai dengan ketersediaan komponen.Yang perlu anda lakukan pada keluaran rangkaian TCI (kolektor T2) hanyalah menghubungkan ke lilitan primer yaitu kutub - (negatif) koil.Sedangkan kutub + (positif) koil sudah terhubung ke saluran positif baterai mobil.Jangan utak-atik lilitan sekunder/high voltage dari koil.Salah satu sisi lilitan skunder koil sudah terhubung dengan lilitan primer secara internal di koilnya.Bila kesulitan mendapatkan transistor TIP162,anda bisa membelinya secara online.
          Sepertinya tidak akan ada kesulitan dalam merakit rangkaian pengapian elektronik ini.Rangkaian harus dibuat serapih mungkin.Kabel untuk hubungan  ke mobil menggunakan serabut tebal seperti biasa digunakan untuk instalasi mobil.Gunakan terminal/skun yang sesuai agar hubungan terlihat rapih.Pastikan bahwa jalur tegangan dari baterai mobil yang masuk ke rangkaian sudah melewati sekering.Rangkaian TCI dimasukkan pada suatu wadah sesuai kreatifitas anda misalnya tempat makanan kedap udara dan dilubangi sesuai kebutuhan selanjutnya dipasang pada mobil dekat dengan koil,biasanya dipasang/dikalungkan pada koil dengan suatu pengikat.Pemasangan harus kuat dan tahan goncangan.Sebelum dipasang di mobil,TCI dapat dicoba dengan memberi beban berupa lampu 12V sebagai pengganti koil dan hubungkan pertemuan R1/R3 dengan seutas kabel ke ground.Lampu harus nyala dan padam bila pertemuan R1/R3 tersebut dihubungkan dan dilepaskan terhadap ground.Kondensator pada delco/distributor mobil sebaiknya dilepas karena mengakibatkan pengapian sedikit terlambat.
       

Gambar1.Rangkaian Transistor Controlled Ignition.


                                                                      Gambar 2.Dioda Zener.

Daftar komponen :

R1         = 470 Ohm/2 W
R2        = 150 Ohm/2 W
R3        = 4K7/0,5 W
R4        = 470 Ohm/0,5 W
C1         = 220 nF/400 V
D1        = 2 x 150 V/1 W atau 4 x 75 V/1 W
T1         = BD140
T2        = TIP162


     




        
  Rangkaian lain Electronic Ignition rancangan saya,bisa digunakan untuk contact breaker/platina dan contactless ignition system/pengapian tanpa platina buatan sendiri.


09/12/2014 :
          Banyak yang menanyakan kepada saya skema/bagan pemasangan TCI di mobil.Baiklah,karena sepertinya berguna akan saya muat di sini.Untuk memudahkan pemahaman,akan saya berikan dulu rangkaian pengapian mobil konvensional.

(a)


(b)
Rangkaian pengapian mobil,(a).Konvensional (b).Dengan TCI.

          Gambar selanjutnya adalah skema pemasangan TCI di mobil.Pada gambar (a) diberikan sirkuit aslinya.Warna jalur saya sesuaikan dengan skema TCI pada gambar 1.


(a)


(b)
Skema pemasangan TCI di mobil,(a).Konvensional (b).TCI


07/10/2015
          Rangkaian TCI ini juga bisa menggunakan IGBT untuk T2.ON Semiconductor membuat beberapa semikonduktor untuk Electronic Ignition,misalnya NGB8206,yaitu IGBT 350 V, N Channel dalam kemasan D2PAK.




NGB8206 digunakan dalam aplikasi rangkaian untuk mengendalikan beban induktif terutama pengapian elektronik dan rangkaian lain dimana dibutuhkan untuk melakukan switching tegangan dan arus tinggi.Di dalamnya sudah terintegrasi Diode Clamping Circuit sehingga kita tidak membutuhkan lagi dioda zener.Tapi jangan lupa untuk menambahkan sebuah dioda 1N 4007,dengan katoda ke kolektor  dan anoda ke emitor T2. Selain itu,IGBT ini juga tidak mahal harganya.Setelah mencoba beberapa bulan dan melakukan perjalanan ratusan kilometer,saya berpendapat IGBT ini layak menjadi alternatif untuk T2.